Selasa, 28 September 2021 00:17

Kwarcab Purbalingga

Portal Informasi Pramuka Purbalingga

Mengenal Kak Budi Soekarno Ketua Kwarran Bojongsari yang Hadir dan Mengalir

5 min read

Hadir dan mengalir

Bagi lingkungan sekitar, sosok Kak Budi tidak sekadar hadir dan mengalir, melainkan bergerak dan menggerakkan. Sepenuhnya Kak Budi meyakini betapa tugas guru bukan cuma mendidik serta mengajar. Guru adalah agen perubahan, tidak hanya bagi siswa, melainkan lebih luas lagi, yakni untuk masyarakat dan kemanusiaan.

“Selama ini, saya perhatikan, kebanyakan guru lebih sering ulang-alik antara ruang kelas dan kantor. Begitu datang; masuk kelas, jam istirahat; menghabiskan waktu di kantor. Atau kalau keluar ya ke kantin, membeli makanan. Terus ke kantor lagi, ke kelas, baru pulang. Jarang ada yang betul-betul memperhatikan lingkungan sekolah dan lingkungan masyarakat sekitar sekolah, makanya aspek kebersihan, keindahan, keasrian, kerindangan, dan pemberdayaan warga kerap terabaikan,” tutur Kak Budi dengan prihatin.

Guna menanggulangi hal tersebut menurut Kak Budi, sekurang-kurangnya ada dua resep yang harus dilakukan. Pertama, mengubah mindset lebih progresif. Kedua, mengedepankan semangat rela berkorban.

Tidak cuma retorika belaka, Kak Budi melaksanakan betul kedua resep itu. Manakala bertugas menjadi guru di SD Negeri 3 Sirau (1998-2004), ia mendapati fakta lingkungan sekolah yang terpencil dan masyarakat yang terkucil dari akses pendidikan memadai.

Lulus SD, tidak ada siswa yang melanjutkan sekolah. Remaja laki-laki langsung bekerja menjadi tenaga kasar, sedang yang perempuan dikawinkan. Tambah lagi, waktu itu, tidak ada jaringan listrik di daerahnya bertugas. Orang-orang lain, mungkin memandang kenyataan ini sebagai nasib mengenaskan. Sebaliknya, Kak Budi menyikapinya sebagai tantangan.

Ia tahu, siswa-siswa tidak bisa digenjot di bidang akademik, maka ia menggenjotnya dari sisi nonakademik, lewat rupa-rupa ekstrakurikuler. Tidak mudah. Pasti, dengan banyak aral menghadang, tetapi perjuangan terasa manis belaka, tatkala satu persatu siswa yang sebelumnya tidak sekalipun mendapat prestasi tingkat kecamatan. Justru dapat menyabet prestasi di tingkat Kabupaten, dan tidak cuma sekali-dua kali, malah berkali-kali! Umpamanya Juara I Lomba Kolase dan Juara I Lomba Lukis Tingkat Kabupaten Purbalingga (1999, 2000). Sungguh, satu kegemparan yang mencengangkan: bagaimana bisa?

Secara sederhana Kak Budi katakan, resepnya hanya dua, sebagaimana telah disebutkan (secara detail, liku-liku perjuangan mengajar di daerah terpencil terdokumentasikan dalam novel semi-otobiografis Mutiara di Bukit Sirau [Media Guru, 2017]).

Ketika kali pertama menjabat Kepala Sekolah tahun 2014, Kak Budi ditugaskan di SD Negeri 3 Pekalongan, Bojongsari dengan sumber daya guru sepuh, lingkungan sekolah belum tertata maksimal, dan jumlah siswa yang sedikit. Sekali lagi, bagi Kak Budi, ini adalah kumandang tantangan.

Ia mencoba mengoptimalkan sumber daya guru bukan lewat kalimat direktif langsung, melainkan keteladan. Ia berupaya intens menyuntikkan pikiran-pikiran progresif seraya mencontohkan disertai harapan mampu mempengaruhi dan menggerakkan perubahan.

Hubungannya dengan bangunan fisik—disebabkan keterbatasan biaya—Kak Budi menjalin kerja sama dengan komite sekolah  dan instansi terkait lainnya untuk mewujudkan impian sebagai sekolah sehat.

Selanjutnya,komunikasi intens antara komite dengan warga sekolah sekolah mengupayakan peningkatan kualitas fisik sekolah, sehingga dapat bersaing secara sehat di tengah kemajuan pendidikan di lingkungan Kabupaten Purbalingga.

Hal yang ditempuh Kak Budi untuk mengeratkan nuansa kekeluargaan dengan masyarakat, ialah dengan rutin mengunjungi mereka. Ini satu hal yang kemudian terbukti efektif melejitkan tingkat kepercayaan masyarakat. Orang-orang berbondong-bondong menyekolahkan anak-anak mereka ke sekolah yang dikomandoi Kak Budi. Tidak sedikit anak yang berasal dari desa-desa tetangga, seperti Metenggeng dan Bumisari, sehingga upaya Kak Budi sempat dianggap sebagai ‘ancaman’ bagi sekolah-sekolah lain.

Berdasarkan pengakuan Kak Marini Saraswati, Guru SD Negeri 1 Brobot, terhadap guru-guru, Kak Budi tidak pernah menggunakan kalimat perintah berbalut amarah. Lebih kerap, Kak Budi memberitahukan secara persuasif lewat lisan dan perbuatan.

Kini, Kak Budi yang telah menghasilkan puluhan buku fiksi dan nonfiksi (Mutiara di Bukit Sirau, Pembelajaran Matematika melalui Game Kubik, Pembelajaran PKn Model Coleti TPS, dan sebagainya) tengah menyelesaikan S2 Pendidikan Dasar di Universitas Terbuka sambil terus mengurusi macam-macam hal, seolah-olah tangannya seperti gurita, lebih dari dua. (Kak Thomas Utomo—Anru Pekap, Kwarran Bojongsari)

 

Artikel ini saudah tayang di https://bojongsari.pramukapurbalingga.id/2021/07/07/profil-budi-soekarno-s-pd-ketua-kwarran-bojongsari-yang-multitalenta dengan judul Profil Budi Soekarno, S.Pd. Ketua Kwarran Bojongsari yang Multitalenta

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *